TUGAS KE-2 (MAGANG1)

 Nama : Nurdiana

Nim : 11901036

Dosen Pengampu : Farninda Aditya. M. Pd

Makul : Magang 1

Kelas : PAI 4E


MENEJEMEN  SEKOLAH

A. Konsep Menejemen Sekolah

Menejem dalam arti luas adalah perencanaa, pelaksanaan, dan pengawasan sumberdaya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. sedangkan menejemen dalam arti sempit adalah menejemen sekolah atau madrasah yang meliputi perencanaan program sekolah atau madrash, pelaksanaan program sekolah atau madrasah, kepemimpinan kepala sekolah atau madrasah, pengawasan atau evaluasi dan sistem informasi sekolah atau madrasah. sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh peserta didik. potensi tersebut meliputi aspek kongniktif, afektif dan pisikomotorig.

menejemn sekolah merupakan proses pengelolaan sekolah melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sekolah agar mencapai tujuan pendidikan yang telah di tetapkan. kepala sekolah sebagai menejer sekolah menempati posisi yang telah di tentukan di dalam organisasi sekolah. salah satunya prioritas kepala sekolah dalam menejemen sekolah ialah menejemn pembelajaran. menejemen sekolah adalah sutu usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan belajar mengajar yang optimal.

pendapat dari beberapa ahli mengenai menejemen sekolah : 

1. Didalam bukunya, Prof. DR.Oemar Hamalik mengartikan menejemen sekolah sebagai suatu proses atau system organ peningkatan kemanusiaan dalam kaitannya dengan suatu system pendidikan.

2. DR. H. Muhaimin, Hj. Suti'ah Mpd dan Sugeng Listyo Prabowo Mpd mengartikan menejemen sekolah sebagai seni dan ilmu pengelolaan sumber daya pendidik untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan evisien.

3. Zainal Aqib dalam bukunya yang berjudul "Belajar dan pembelajaran di taman kanak-kanak" mengartikan menejemen sekolah adalah keseluruhan proses pendayaguanaan semua sumber daya manusia maupun bukan sumber daya manusia dalam rangka untuk mencapai tujuan instruksional pendidikan.

4. B Suryosubroto mengartikan menejemen sekolah dari segi kepemimpiann yang bis adi artikan sebagai suatu usaha untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang bagi mana kemampuan yang dimiliki oleh seorang administator pendidikan untuk menjalankan segala pencapaian tujuan pendidikan. 

5. dalam bukunay, Redja Mdyaharjo mengartikan menejemen sekolah sebagi sutu prose untuk mengkordinasikan berbgai sumber daya pendidikan seperti guru, sarana dan prasarana pendidikan seperti laboratorium, perpustakaan dan sebagainya untuk mencapai tujuan pendidikan. 

6. Biro perencanan departemen pendidikan dan kebudayaan RI mengartikan menejemen pendidikan sebagi sebuah proses perencanaan, pegorganisasian, memimpin, mengendalikan tenag pendidik dan segala sumber daya pendidik untuk mencapai  tujuan pendiidkan, membantu mencerdaskan kehiduan bangsa, mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, memiliki budi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehtan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta memilki tanggung jawab pada masyarakat dan bangsa.

7. Menurut Engkoswara di dalam buku karyanya yang diterbitkan pada tahuan 2001, menejemen sekolah merupakan suatu ilmu yang secara khusus mempelajari bagiman cara untuk menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagimana menciptakan suasana bagi manusia yang turut serta dalam mencapai tujuan telah di sepakati bersama.

8. Soebadjo Atmodiwiryo dalm bukunya menjelaskan bahwa menejemn sekolah merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidik, sumber daya pendidik dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan.

9. Djam'am Satori tahun 1980 dalam bukunya bahwa menejen sekolah adalah suatu keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personel dan materiel yang ada dan sesui denagn rangka untuk mencapi tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.

10. Made Pidarta, dalm bukunya menulis bahwa menejemen sekolah merupakan aktivitas memadukan sumber-sumber pendiidkan agar terpusat dalam usaha untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah di tentukan sebelumnya.

B. Fungsi Menejen Sekolah

Secara umum ada 4 fungsin menejemen sekolah yang banyak dikenal oleh masyarakat yaitu :

1. fungsi perencanaan (planning), perencanaan mengutanakan kontinuitas program sebgai lanjutan bagi terciptanya stabilitas kegiatan belajar mengajar di sekolah. perencanaan adalah sasaran bergerak dari keadaan masa kini kesutu keadaan pada masa yang akan datang sebagai suatu proses yang mengambarkan upaya peningkatan organisasi secara menyeluruh. perencanaan di buat sebelum sutu kegiatan dilakukan. Banghart dan Trull (1973) mengemukakan bahwa "educational laining is first of all a rational process". perencanaan meliputi kegiatan menetapkan apa yang inggin di capai, bagaimana mencapai, berapa lama waktu yang di perlukan untuk mencapainya, merapa banyak biayaa yang di butuhkan serta berapa berapa personil yang diperlukan. dalam kegiatannya dengan perencanaan, sekolah harus membuat rencana pengembangan sekolah yang di terjemahkan menjadi program tahuanan dan o\program semester, dimana di dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan yang bersifatnya dinamis dan di sesuikan dengan kebutuhan sekolah.

2. Fungsi pengorganisasian, diartikan sebagai kegiatan pembagian tugas-tugas pada orang yang terlibat dalam kerja sama sekolah. (segala, 20007). kegiatan pengorganisasian menentukan siapa yang akan melakukan tugas sesui dengan prinsif pengorganisasisan. pengorganisasian yang positif adalah membagi habis, dan menstrukturkan tugas-tugas ke dalam sub-sub atau komponen-komponen organisasi secapa propesional. pengorganisasian sekolah adalah tingkatan kemampuan kepala sekolah bersama guru, tenaga kependidikan, dan prosonal lainnya di sekolah melakukan semua kegiatan manejerial untuk mewujutkan hasil yang direncanakan dengan menentukan struktur tugas, wewenang dan tanggung jawab, dan menentukan fungsi-fungsi setiap prsonil secara proposional sesui dengan tugas pokok dan fungsinya sehingga terlaksananya tugas pada berbagai unsur organisasi. pengorganisasian juga menentukan alat-alat yang di perlukan, mengalokasian waktu, dana, dan sumber daya sekolah yang lebih proposional. 

3. Fungsi Penggerakan, menggerakan menurut Keith davis (1972) adalah kemampuan membujuk orang-orang mencapai tujuan yang telah di tetapkan dengan penuh semangat. mengerakan dalam  organisasi sekolah erat kaitannya dengan peran peran dan fungsi kepala sekolah dalam memberikan motivasi kepada guru dan seluruh komponen sekolah dalam melaksanakan tugas dengan penuh antusias dan dedikasi yang baik untuk mencapai tujuan yang diharapkan. prinsip utama dalam penggerakan ini adalah bahwa perilaku dalam alur, dibentuk, atau diubah dengan system imbalan yang positif yang dikendalikan dengan cermat. dalam melaksanakan fungsi penggerakan, kepla sekolah merencanakan cara untuk memungkinkan guru, tenaga kependidikan dan prsonal sekolah lainnya secara teratur mempelajari seberapa baikk ia telah memenuhi tujuan sekolah yang spesifik dalam meningkatkan mutu sekolah.

4. Fungsi Pengkorninasian, dalam oprasionalnya mengerjakan unit-unit, orang-orang, lalu lintas informasi, dan pengawasan seefektif mungkin semua harus seimbang dan selaras dengan tujuan yang telah di tetapkan sebelumnya. pengkorninasian mengandung makna menjaga agar tugas-tugas yang telah ditetapkan, tidak asal jadi atau sekehendak hatinya saja. dengan kordinasi yang baik, maka dapat menghindarkan kemungkinan duplikasi dalam pembagian tugas, perebutan hak dan tanggung jawab, ketidak seimbangan dalam berat ringannya pekerjaan, kesimpangsiuran dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. kordinasi yang baik juga juga dapat menjelaskan bahwa waktu kerja yang harus dipertanggung jawabkan, memastikan kejelasan tugas pokok dan fungsi masing-masing, terhindar dari komunikasi yang buruk, semua prsonal sekolah mendengar apa yang ingin didengarkannya dari pimpinan sekolah dan dari rekan sejawatnya, sehingga dapat mengarahkan semua pekerjaan sekolah menjadi lebih efektif dan efisien dan menghasilkan kualitas sekolah yang kompetitif.

5. Peran kepala sekolah dalam menejemen, denagn adanya kepala sekolah yang mampu mempengaruhi dan menggerakan semua sumberdaya pendidikan dipredisikan dapat memacu dan sekaligus memicu pencapaiaan kualitas pendidikan. dengan kaitannya sebagai menejer, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayaan tenaga kependidikan melalui kerja sama yang komperatif, memberikan kesempatan kepata tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya dan mendorong keterlibatan yang menjujung program sekolah. peran kepala sekolah sebagi menejer meliputi : kemampuan menyusun program, kemampuan menyusun organisai/personalia, kemampuan mengerakan staf guru dan kariawan, kemampuan mengoptimalkan sumber daya sekolah. dalam upaya mencapai tujuan kependiidkan di sekolah peran tenaga pendidik sangat menentukan. selain guru, tenaga penunjang lainya adalah tata usah asekolah. tata usaha adalah penyelenggaraan sistem admimistrasi dan informasi pendidikan di sekolah, juga berperan dalam pengembangan sekolah. proses pelaksanaan pendidikan melalui lembaga pendidikan dikatakan berjalan dengan baik jika memiliki sistem administrasi melekat dengan tugas ketata usahaan, meskipun memnag salh satu bagian dalam tugasnya, mempunyai tugas yang lebih dari sekedar masalah administrasi. hal ini berkaitan dengan kualitas dari staf tata usah itu sendiri.

6. Mutu Pendidikan, mutu berkaitan baik dan buruknya suatu benda, kadar atau derajat. mutu pendidikan yang di inginkan tidak terjadi begitu saja, tetapi mutu perlu di rencanakan. perencanaan yang matang merupakan salah satu bagain dalam upaya meningkatkan mutu. Depdiknas (Mulyasa, 2013:157), secara umum "mutu diartikan sebagi gambaran dankarakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang di harapkan atau tersirat. dalm konteks pendidikan, pengertian mutu mencangkup input dan output pendidikan". input pendiidkan adalah segala sesuiatu yang harus tersedia karena di butuhkan untuk berlangsungnya proses. input sumberdaya meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah, guru termasuk guru BP, kariyawan, siswa) dan sumberdaya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang, bnahan, dan sebagainya). proses pendidikan merupakan berubahnya proses di sebut input, sedang sesui dari hasil proses disebut output. output mendidikan adalah merupakan kinerja sekolah. kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/ prilaku sekolah. kinerja sekolah dapat di ukur dari kualitasnya, evektifitasnya, efesiensinya, inivasinya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moral kerjanya. proses pendiidkan yang bermutu apabila seluruh komponen pendidikan terlibat dalam proses pendidikan itu sendiri. kamisa (Karwati dan Priansa, 2013:15) menyebutkan "mutu yang dimaksud dalam prespektif pendidikan adalah mutu dalam konsep relatif, terutama berhubunagn dengan keputusann pelanggan.

7. Tujuan Menejemen Sekola, (1) produktivitas adalh perbandingan terbaik antar hasil yang di peroleh (output) dengan jumlah sumber yang di pergunakan (input). produktivitas dapat menyatakan secara kuantitas maupun kualitas. (2) kualitas menunjukan kepada suatu ukuran penilaiaan atau penghargaan yang di berikan atau dikenakan kepada barang (products) dan atu jasa (services) tertentu berdasarkan pertimbangan objektif atas bobot dan atau kinerjanya. (3) efektivutas adalah tujuan keberhasialan organisasi. (4) Efesiensi berkaitan dengan cara yaitu membuat sesuatu dengan betul (doing things right) sementara efektifitas adalh menyangkut tujuan (doing the right thing) atau eftivitas adalah pembandingan antara rencana tujuan yang tercapai efesiansi lebih di tentukan pada perbandingan anatr input sumber daya dengan output. efesiensi pendidikan adalah bagian tujuan itu dicapai dengan memiliki tingkat efesiensi waktu, biaya, tenaga dan sarana.

 


REFERENSI/SUMBER

https://ejournal.upi.edu/index.php/JAPSPs/article/view/6387

https://media.neliti.com/media/publications/93694-ID-manajemen-sekolah-dalam-meningkatkan-mut.pdf

Komentar